Pijitan turun ke perut. Bokep japan Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Tunggu apa lagi. Mobil melaju. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Jari tangan mulai dingin. Tidak terlalu ayu. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.Ke mana ia? Sial. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Alamak.., jauhnya. Hah..? Sial. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Membuatku tidak berani. Kuusap sisa cream. Aku memegang teteknya. Lalu ngomong apa? Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Apa katanya nanti? Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan.




















