Setelah itu ia berpaling menatap ke luar jendela samping. Nonton bokep jepang “Ada yang salah?” tanyaku. Saat aku memindah perseneling, jemarinya terangkat dan menggenggam pergelangan tanganku. Bibirnya berbisik-bisik tak karuan. Sampai akhirnya aku merusak suasana dengan pertanyaanku.“Stop!” serunya, membuyarkan lamunanku. Pelukannya di leherku terlepas. Belum.. Waktu itu kulihat ia berdiri sendiri di depan pintu lorong yang menghubungkan ballroom dengan dapur. Lembut. Nada tak senang terdengar saat ia berucap. “Apa yang lucu?” tanyaku. Jelas sudah ia mengetahui kalau aku memang masih perjaka. Ia terkekeh. Kulihat ia masih berdiri menghadapku dengan senyum di depan stereo set. Ia tertawa lagi. “Nice,” ia berbisik di pipiku. Itu yang kurasakan saat menatap wajahnya. Kutarik tubuhku ke atasnya. “Nice,” ia berbisik di pipiku. Baju-bajuku masih berserakan di lantai. “Jangan menjauh.” Aku menoleh dan memandangnya. Nada tak senang terdengar saat ia berucap. Mungkin aku sedang bermimpi, saat kudengar ia bersenandung seolah menidurkanku. “Wah,” kataku, “aku tak bisa dansa.”
Ia mengangkat tubuhnya dan tersenyum. “Apa kerjamu tadi?”
“Di sebuah perusahaan distributor material bangunan.”
“Oh ya, aku lupa.




















