Selepas waktu makan siang aku punya waktu bebas.Berbekal petunjuk dan alamat yang diberikan Pak Mertino, aku naik becak dari hotel. Bokep indo “Wah nanti aku ditembak,” kataku. Kali ini aku datang agak lebih pagi, mungkin sekitar jam 11. Di sebelah kanan di bawah kerimbunan pohon aku melihat semacam warung makan. Hanya berbicara menjawab pertanyaanku. Aku tidak tega menggantinya dengan yang lain, apalagi rasanya lumayan jugalah untuk temen bobok siang. Dia menawarkan untuk dipijat. Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena badanku terasa ditindih sambil dipijat. Dia menawarkan untuk dipijat. Seandainya tidak ada embel-embel tempat berkumpulnya para STW, mungkin aku akan sering mampir di warungnya hanya untuk makan .Selama makan aku ngobrol macam-macem, sampai akhirnya aku tahu bahwa Mbak Ambar punya usaha yang sama di Solo dan Semarang. Tempat yang unik dimaksud, adalah semacam “show room” tapi khusus untuk para istri yang mencari tambahan dengan menerima “tamu”. Penisku yang tadinya loyo, dihisap-hisap Amei, perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Jadi tamunya baru aku sendiri. Mereka seperti bergantian.Sebagian memang suaminya tidak tau, tetapi sebagian lagi menurut Amei datangnya di antar suami dan nanti sore dijemput lagi.




















