Namun, belum juga kutemukan Maryamku. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.Hamil muda?!?! Bokep terbaru “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Dug! Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini. Senyum bahagia.“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Tes! Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini.




















