Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Bokep jepang Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Hap. Ciut. Hitam. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Ia menyentuhnya. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Ia menyenggol kepala juniorku. Tunggu apa lagi. Ia cukup lama bermain-main di perut. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Masih ada waktu bebas dua jam. Aku mengurungkan niatku. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Kuusap sisa cream.




















