Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Bokeb Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Tapi Abi kan manusia biasa. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah.




















