“Makasih, sibuk ya?”
“Belum”
“Banyak tamu?”
“Biasa Mas”
“Nanti ngobrol yuk”
“Ini juga ngobrol”, katanya
“Temen kamu mana ?”
“Ke pantry”, mukanya memerah. But it’s true. Bokep jepang Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Tangan kiriku masih menopang pantatnya, tangan kananku dengan cepat dan sedikit kasar merangsek ke vaginanya. Petugas hotelnya kebetulan 2 orang wanita. “suamimu?”, tanyaku. Desah dan erangan Ana tiba-tiba berhenti. “Hmm.., eeehh..”, nafasnya mulai memburu. “Salah”
“Dua lapan !”
“Lho koq tahu ?”
“Kan nebak…”
“Iya dua lapan tua ya?”
“Enggak juga, malah aku kira dua lima tadi”, aku yakin hatinya agak meremang di ujung sana.“Mau makan di mana?”
“Mau nemenin?”, tanyaku
“Mmm.., besok kali ya..”
“Sekarang aja deh…”
“Eh, kalo sekarang ngobrol dulu”, katanya ngajarin, (kan lebih tua). Petugas hotelnya kebetulan 2 orang wanita. Ana tersenyum, jelas terlihat nafasnya yang ngos-ngosan karena deg-degan, matanya tak lepas memandangku. Aku hanya melongo melihat kenekatannya. Di balik kertas itu dia meninggalkan nomor telepon rumahnya.Dan lima hari tugas di Tarakan hampir setiap malam hal yang sama terjadi, namun kami melakukannya di lain hotel di kamar nomor 13. Sekarang kadang aku merindukan ketabahannya itu, bukan main.., bahkan hal itu tak terulang lagi padahal aku sangat merindukan belaian serta pelayanan dari Ana.TAMAT




















