Enakh… ahh…”“Denokh… uh… nanti kalau udah sampai… kamu njerit yang keras ya?” pinta Juragan di sela-sela nafasnya yang memburu.“Sampai?” Saya bingung apa maksudnya.“Nanti juga kamu… uh… hh… rasa sendiri,” kata Juragan.“Yang seperti… uh… tadi. Uwahh!! Bokep Mom Orang kok tega ya ngomong seperti itu. Tangannya yang besar itu memegang bahu saya.“Siapa bilang kamu nggak punya apa-apa?” bisiknya. Enggak tahu kenapa, biarpun rasanya dari kecil makanan saya bergizi pas-pasan, kok tetap saja badan saya bisa jadi ya. Kenapa ini… kok badan saya bereaksi seperti itu?“Ooh… heehhh… aduh Juragan… kena…pa ini?” saya meracau, bingung dengan badan saya sendiri.Saya belum pernah disentuh orang di bagian situ. Saya sontak mundur, tapi tangan Juragan lantas memegang pundak saya.“Jangan takut, Denok…” katanya.Juragan juga memegang paha saya yang masih sebagian tertutup kain batik. Makin lama saya makin gawat. Buru-buru saya pakai lagi kemben dan kain saya. Banyak orang di Pasar, yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, haus hiburan murah yang bisa bikin mereka ingat kampung masing-masing.




















