Aku tetap bertahan di tempatku berdiri, tetap menyaksikan anak laki-laki penjual kantong plastik di dekat tiang lampu merah yang juga masih berjualan. Bokep japan Aku tidak menyalahkan pengemis-pengemis yang mencari rezeki dengan mengemis, tapi sekali lagi, aku lebih kagum pada anak itu. Oleh karenanya, aku betah berdiri berlama-lama di sini. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah. Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Baru satu orang yang beli.”
“Ya sudah. Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Aku kini mulai bingung. Mereka mengeluarkan beberapa barang berupa bubuk yang lumayan kecil, menghirupnya sedikit, lalu tertawa-tawa. Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu.




















