Saya juga nggak pernah merasa sendirian lagi.“Uohhh… buang di dalem boleh gak Neng?” tanya supir yang di depan saya.Saya ngangguk. “Kenyal-kenyal kalau diremas…”“Kh… ihh… apa iya…?” kata saya, sambil merasa jari-jari Juragan memenceti sepasang tetek saya. Bokep jepang Juragan udah… jangan! Dan badan saya gerak sendiri, naik-turun sambil masih tersodok kontolnya.“Aah! Juragan ternyata tinggal sendirian. Itu jadi kenangan penting buat kami, waktu Juragan didatangi seorang penari jalanan. Tapi saya mbandel. Kalau bukan karena yang pertama kali itu, kamu nggak usah sampai seperti ini… Aku salah, Denok, aku yang ndorong kamu sampai jadi begini… Salahku gede sekali sama kamu, Denok…”Dengan sedikit kekuatan yang sudah muncul, saya coba rangkul beliau sebisanya.“Juragan… nggak apa-apa… mungkin ini sudah jalan hidup Denok…”“Nggak, nggak boleh lagi, Denok… Mulai sekarang biar aku yang nanggung kamu, Denok. Apa sudah waktunya?Saya nggak bisa kendalikan badan saya. Masih nggak percaya apa yang barusan saya lakukan dengan Juragan. Duh, buyar deh pertahanan saya. Tokonya sedang sepi, tidak ada pembeli.“Juragan,” pinta saya. Hari itu saya berangkat ngamen, berusaha cari uang buat hidup.Sialnya, hari itu pasar agak sepi, dan sesudah dua jam saya baru dapat Rp5000 sesudah menari di pangkalan ojek.




















