“Nov…”
Matanya terbuka menantangku melakukan yang lebih. “Makasih, sibuk ya?”
“Belum”
“Banyak tamu?”
“Biasa Mas”
“Nanti ngobrol yuk”
“Ini juga ngobrol”, katanya
“Temen kamu mana ?”
“Ke pantry”, mukanya memerah. Bokep india “Trus?”. Dan kalau mau percaya, hal itu kulakukan karena aku sering melihat melalui ujung mataku, seorang dari kedua petugas check in itu selalu berusaha mencuri perhatianku. “Di rumah, aku gak pernah cerita sama dia”
“Kamu lima tahun lebih muda menurut mataku..”
Ana menggelayut manja, tak tampak lagi kepiluan di matanya, mungkin dia sudah tidak peduli, baginya aku adalah pacarnya yang masih hidup. “Ana.., kalo Mas?”
“Nanti di telepon aja, dinding-dinding sini bertelinga”, kataku sok gentle.Kuterima kunci kamar yang ia sorongkan, tak luput aku pegang tanganya yang menjulurkan kunci. Belum tiga menit pintu terbuka dengan cepat, Ana masuk lalu menutup pintu dengan cepat pula. Setelah terbuka bajunya, tampaklah sepasang dada yang indah. Saat kulihat selembar kertas tertempel di kaca hias. Sampai di kamar, jam masih menunjuk pukul setengah lima. Masih ada dua rute lagi harus kami jalani untuk sampai ke pulau Tarakan. Aku kini lebih siap, kutarik nafas dalam-dalam lalu “Sssyyyuuutt..”, seperti ada angin di dalam tubuhku ke arah penisku yang terasa kempot-kempot.Gila !, apalagi nih.., dan aku tak mampu bernapas, dadaku sesak, kandung kemihku serasa dibetot-betot.., dan di puncak kenikmatan




















