Setelah beliau berdua pergi, aku masuk lagi ke ruang operator untuk ngecek properti. Kumajukan wajahku ke arah tetek Mbak Titis, tanpa mengalihkan pandangan dari matanya. Bokep indo Gara-gara Pak Min nih. Tanpa bisa kutahan, senjataku segera mengacung memenuhi celanaku. Sodokanku di vaginanya kupercepat sementara remasanku semakin kuat di teteknya. “Mbak… Aku dah mo keluar Mbak… Mphhh…”
Iiiiyyaaaa maasss… mbak juga… aaayooo masss…”
Kupercepat gerakanku. Kamu kok pinter banget sih…”, kata Mbak Titis manja. Ingin sekali aku menelanjangi Ibu Titis dan mengulum puting payudaranya. Panggil aja Mbak. Lidahku terus menjilat mencari-cari daging nikmat. Gimana ga banyak coba… Kulihat Mbak Titis masih tetap mengulum penisku dan menghisap semua mani yang ku keluarkan. Aku agak panik karenanya. Lumayanlah, musiknya agak melow-melow gitu jadinya asik di dengerin sambil ngantuk. Aku jawab aja udah. Dan lagi2 Mbak Titis menjilat penisku pelan. Ati-ati ya…”, sahuntuku cepat berharap Rani segera pulang. “Ouhh… Mas…”, tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. “Siap Pak”, jawabku sambil berlagak kayak prajurit. Gara-gara Pak Min nih. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Ketika akan menyerahkan kunci studio, aku baru ingat kalo yang akan menerima kunci nanti adalah ibu Titis alias Mbak Titis.




















