Aku lupakelamaan menghitung kancing. Tetapi berlari. Bokep viral Lalu memegangpahaku, Yang mana..?Yes..! Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Jam berapa aku berangkat. Alamak.., jauhnya. Apakah suarakumengganggu ketenangan mereka?Pelanpelan suaranya kan bisa Dek, sang supirmenggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat.Satu dua, satu dua. Ini.., kutunjuk pangkal pahaku.Besok saja Sayang..! kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Dingin.Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di ataskulit punggung. Aku masihtermangu. Ini kesempatankedua. Toh, sisetengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba disalonnya. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Garis setrikaannyamasih terlihat. Astaga. Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ah bodoh. Dari jarak yang dekat ini hawa panastubuhnya terasa. Iamenikmati, tangannya mengocok Junior.Besar ya..? Akumembayangkan dapat menjepitnya di sini. Ayo..!Aku masih diam saja. Baru saja aku memasang ikatpinggang, Wien menghampiriku sambil berkata,Telepon aku ya..!Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yangdisobek sekenanya. Kaki disandarkan didinding. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis.Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagianlengan, kalau belum cukup kancing Bapakbapak disebelahku juga bisa.




















