Nampaknya mereka sangat buru-buru. Gila pikirku. Bokep Mom Gimun berlari ke dangaunya. Nanti burung keburu banyak,” kata Gimun. Sampai akhirnya, aku melihat keduanya berhenti beroyang. Makin lama, gerakan Tini semakin cepat dan Gimun mengimbanginya dari bawah. Saat aku duduk di sela-sela batu menyiapkan pancingku serta umpan, aku melihat sepasang anak mengendapendap di pematang sawah di ketinggian. Aku jelas melihat Tini memeluk tengkuk Gimun. Makin lama, gerakan Tini semakin cepat dan Gimun mengimbanginya dari bawah. Pasti mereka sudah sering melakukannya, karean tidak ada lagi rasa sakit yang terasa dari TIni. “Ya sudah. Tini menangkap kontol abangnya dan mengarahkannya ke memeknya. Nanti burung semakin banyak. Berkisar jarak satu meter di balik batu besar, aku mendengarkan pembicaraan mereka.“Tadi kan aku sudah bilang, kamu tak usah pakai celana dalam,” kata Gimun. Aku berpikir, kenapa tadi ibunya tidak membawa nasi sekalian? Salah satunya mereka mengatakan Ibu Gimun. Kamu masukkan saja,” kata Gimun. Yah…kita-kita dua kali bola pimpong. Tapi kenapa Gimun turun pula dari dangau dan mengendap-endap mendapatkan ibunya? Kenapa akak beradik harus mengendap-endap ke bawah pohon besar yang dikelilingi oleh padi setinggi 1 meter.Kuikuti dengan pandanganku.










