Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Iin, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tdk aq harus bicara padanya. Bokep rusia Tapi tdk apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aq paling anti masuk salon. Jendela kubuka. Apa yg aq harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa?Mendadak jari tanganku dingin semua. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yg kali ini karena mendung tdk lagi ada keringat di lehernya. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aq lalu menuju salon. Iin datang. Ia menekan-nekan agak kuat. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Untung ada tissue yg tercecer, sehingga ada alasan buat Iin.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yg menunggu telepon. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Dari atas: Turun. Badannya berbalik lalu melangkah. Tetapi tdk lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Keras sekali. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Badannya berbalik lalu melangkah. Masih ada esok. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Saya bisa masuk angin” kata perempuan setenga baya di depanku pelan.Aq tersentak. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat.




















