Hujan tidak juga berhenti. “Engga cape , Vi, Kok belom bobok ?” tanyaku membuka percakapan. Bokep terbaru Aku lihat wajah Evi sudah berseri-seri kembali, tidak seperti kemarin malam. Mengapa bukan Hendra atau Rudi yang mereka perebutkan?Untuk menebus kesalahan, akhirnya aku mengabulkan permintaan Evi untuk mengantarnya ber window shopping ke Cirebon Mall. Detak jantungku mulai kencang.Bergemuruh. Aku malah jadi geli melihat Evi cemberut kecewa.Untuk long weekend minggu depan kami, teman-teman satu kantor berencana refreshing ke suatu tempat di pinggiran kota Cirebon. Akupun lupa dengan ajakan Tia untuk menikmati aroma terapi bersama. Kecuali…Evi. Tentu saja dia cemberut sampai mukanya dilepat-lipat jadi tujuh.Sesekali aku hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah Evi yang matanya juga tidak pernah lepas menatap setiap gerak gerikku dan Tia. Tapi aku engga mau menculik Evi terrlalu lama..dasar pengecut !!. Setelah keringat kami mengering, Evi pun menggandeng tanganku menuju Kamar mandi. Uffftgh..aman..pikirku licik.Waktu sudah menunjukkan puluk 9 malam.Kami semua berkumpul di ruang karaoke. Dilain pihak, aku juga menyayangi Evi.




















