Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Bokep jepang Jendela kubuka. Shit! Bahannya tipis, tapi baunya harum. Ia tersenyum. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Kuusap sisa cream. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Hawin menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Hawin datang. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Tangannya halus. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Hawin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Ke bawah lagi: Turun. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Alamak.., jauhnya. Inilah kesempatan itu. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.Seakan sengaja memainkan Si Junior. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Membuang napas. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Hawin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon,




















